Kamis, 03 Maret 2011

PERBEDAAN PANDANGAN ANTARA DEMING, JURAN, DAN CROSBY


Tiga penulis Mutu yaitu W. Edwards Deming, Joseph Juran dan Philip B. Crosby menulis tentang Mutu dalam Industri Produk, meskipun ide-ide mereka dapat diterapkan pada Industri Jasa.
Tidak satupun diantara mereka membahas tentang Mutu Pendidikan, namun masukan mereka tentang Mutu sangat besar pengaruhnya terhadap Manajemen Mutu lainnya.
Berikut ini pandangan-pandangan mereka tentang Mutu yang berkaitan erat dengan Manajemen Mutu Terpadu/Total Quality Management.
Deming
            W. Edwards Deming mengemukakan tentang Mutu bersifat Filsafat. Dalam bukunya yang berjudul Out of the Crisis, beliau menggabungkan konsep Mutu mulai dari wawasan Psikologis sampai dengan Kultur Mutu (Quality Culture).
            Deming menyatakan, ada empat belas poin manajemen mutu yaitu terdiri dari :
1.      Ciptakan sebuah usaha peningkatan produksi dan jasa.
2.      Adopsi falsafah baru.
3.      Hindari ketergantungan pada inspeksi massa untuk mencapai mutu.
4.      Akhiri praktek menghargai bisnis dengan harga.
5.      Tingkatkan secara konstan sistem produksi dan jasa.
6.      Lembagakan pelatihan kerja.
7.      Lembagakan kepemimpinan.
8.      Hilangkan rasa takut.
9.      Uraikan kendala-kendala antar departemen.
10.  Hapuskan slogan, desakan, dan target, serta tingkatkan produktifitas tanpa menambah beban kerja.
11.  Hapuskan standar kerja yang menggunakan quota numerik.
12.  Hilangkan kendala-kendala yang merampas kebanggaan karyawan atas keahliannya.
13.  Lembagakan aneka program pendidikan yang meningkatkan semangat dan peningkatan kualitas kerja.
14.  Tempatkan setiap orang dalam tim kerja agar dapat melakukan transformasi.


Menurut Deming, terdapat lima penyakit yang signifikan dalam konteks pendidikan, yaitu :
1.      Kurang konstannya tujuan.
2.      Pola pikir jangka pendek.
3.      Evaluasi prestasi individu.
4.      Rotasi kerja yang tinggi.
5.      Manajemen yang menggunakan angka yang tampak.
Kegagalan mutu terbagi dalam dua bagian, yaitu :
1.      Umum terdiri dari : desain kurikulum yang lemah, bangunan yang tidak memenuhi syarat, lingkungan kerja yang buruk, sistem dan prosedur yang tidak sesuai, jadwal kerja yang serampangan, sumberdaya yang kurang, dan pengembangan staf yang tidak memadai.
2.      Khusus yaitu : kurangnya pengetahuan dan keterampilan anggota, kurangnya motivasi, kegagalan komunikasi, atau masalah yang berkaitan dengan perlengkapan-perlengkapan.
Juran
Buku karangan Joseph Juran adalah Juran’s Quality Control Handbook, Juran on Planning for quality, dan Juran on Laedership for Quality. Juran termasyur dengan keberhasilannya menciptakan Kesesuaian dengan tujuan dan manfaat. Juran mengemukakan tentang mutu yang terkenal dengan istilah Aturan 85/15. Juran menyatakan bahwa 85% masalah-masalah mutu dalam sebuah organisasi adalah hasil dari desain proses yang kurang baik. Menurut Juran Manajemen Mutu Strategis (Strategic Quality Management) adalah sebuah proses tiga bagian yang didasarkan pada staf pada tingkat berbeda yang memberi kontribusi unik terhadap peningkatan mutu. Manajer senior memiliki pandangan strategis tentang Organisasi. Manajer menengah memiliki pandangan operasional tentang Mutu dan para karyawan memiliki tanggungjawab terhadap Kontrol Mutu.
 
Crosby
Philip Crosby mengemukakan ide dalam mutu yang terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
1.      Ide bahwa mutu itu Gratis
2.      Ide bahwa kesalahan, kegagalan, pemborosan, dan penundaan waktu, bisa dihilangkan jika institusi memiliki kemauan untuk itu.
Dalam Quality Is Free, Crosby mengemukakan bahwa sebuah langkah sistematis untuk mewujudkan mutu akan menghasilkan mutu yang baik.
Teori Zero Defects (Tanpa Cacat) yang dikemukakan Philip Crosby adalah ide yang melibatkan penempatan sistem pada sebuah wilayah yang memastikan bahwa segala sesuatunya selalu dikerjakan dengan metode yang tepat sejak pertama kali dan selamanya.
Program mutu yang dikemukakan Crosby terdiri dari 14 langkah yaitu :
1.      Komitmen Manajemen (Management Commitment)
2.      Tim Peningkatan Mutu (Quality Improvement Team)
3.      Pengukuran Mutu (Quality Measurement)
4.      Mengukur Biaya Mutu (The Cost of Quality)
5.      Membangun Kesadaran Mutu (Quality Awareness)
6.      Kegiatan Perbaikan (Corrective Actions)
7.      Perencanaan Tanpa Cacat (Zero Defect Planning)
8.      Pelatihan Pengawas (Supervisor Training)
9.      Hari Tanpa Cacat (Zero Defect Day)
10.  Penyusunan Tujuan (Goal Setting)
11.  Penghapusan Sebab Kesalahan (Error-Cause Removal)
12.  Pengakuan (Recognition)
13.  Dewan-Dewan Mutu (Quality Councils)
14.  Lakukan Lagi (Do It Over Again)
  
KESIMPULAN
Ketiga penulis di atas memiliki ide-ide tentang bagaimana mutu harus diukur dan dikelola, jelas bahwa Deming, Juran dan Crosby semuanya memiliki tujuan yang sama. Penegasan Deming bahwa Pelanggan menjadi orang yang bisa menentukan apakah mutu ada di sebuah Produk atau Layanan, Juran mendefinisikan tentang mutu, dan Crosby mendefinisikan manajemen mutu ditentukan oleh nasabah sebagai penentu terakhir dari kualitas suatu produk atau jasa tertentu. Ketiga penulis tersebut menghasilkan perbedaan yang nyata dari definisi mutu, meskipun dengan berbagai tingkatan yang berbeda.             Dan juga ketiganya melihat pentingnya umpan balik dalam setiap mekanisme yang dirancang untuk mengukur dan mengelola kualitas : Teori Deming adalah Continuous Improvement Helix, sedangkan Juran terkenal dengan Triloginya, dan Crosby mengemukakan tentang Harga Non-Conformance.
Perbedaannya, seperti yang dinyatakan sebelumnya, terletak dalam perspektif masing-masing. Perspektif Deming menyatakan bahwa pelanggan sebagai Penentu Kebijakan dan sangat bergantung pada pasar dimana pelanggan akan mendefinisikan mutu suatu produk atau jasa. Sementara Juran mengemukakan bahwa mutu tidak terlepas dari pasar, dimana faktor penentu dirancang untuk menerjemahkan visi mutu untuk menghasilkan suatu produk. Perspektif Crosby menyatakan bahwa pandangan manajemen ditentukan oleh mutu seseorang baik atau tidaknya tujuan mutu terpenuhi, serta biaya yang harus dikelurkan.
Sebagai kesimpulannya, bahwa Deming, Juran, dan Crosby memiliki pendekatan yang berbeda tentang manajemen mutu, tetapi pada akhirnya ketiganya menekankan pada prinsip-prinsip dasar yang sama.

 
DAFTAR PUSTAKA



Sallis E. (2008). Total Quality Management in Education. IRCiSoD. Yogyakarta.

1 komentar: