Senin, 17 Desember 2012

PERKEMBANGAN JANIN



Rata-rata kehamilam manusia berlangsung selama 38 minggu dari pembuahan hingga kelahiran, atau sekitar 9 bulan. Minggu-minggu awal adalah waktu paling kritis dalam perkembangan janin selanjutnya. Karena pada saat ini semua organ utama terbentuk.

Minggu 2
Pembuahan terjadi pada akhir minggu kedua. Sel telur yang telah dibuahi membelah dua 30 jam setelah dibuahi. Sambil terus membelah, sel telur bergerak di dalam lubang falopi menuju rahim. Setelah membelah menjadi 32, sel telur disebut morula.
Sel-sel mulai berkembang dan terbagi kira-kira dua kali sehari sehingga pada hari yang ke-12 jumlahnya telah bertambah dan membantu blastocyst terpaut pada endometrium.

Minggu 3
Sampai usia kehamilan 3 minggu, Anda mungkin belum sadar jika sedang mengandung. Sel telur yang telah membelah menjadi ratusan akan menempel pada dinding rahim disebut blastosit. Ukurannya sangat kecil, berdiameter 0,1-0,2 mm.

Minggu 4-5
Pada minggu ke 4, ukuran embrio kurang dari 1 mm, tetapi sudah membentuk struktur khusus, pada minggu ke 5 jantung mulai bedetak.

Minggu  6-7
Pada minggu 6 pada embrio terbentuk tunas kecil untuk kaki dan tangan, otak awal terbentuk juga sumsum tulang belakang, selama minggu ini juga mata, hidung, mulut mulai terbentuk, dan jantung sudah terbagi menjadi empat bilik. Dan pada minggu ke 7 jantung muloai berdetak, ukuran embrio sekitar 8 mm.

Minggu 8-11
Pada minggu ke 8 hati mulai menghasilkan sel-sel darah merah dan mulut mulai terbuka. Pada minggu ke 9 jari-jari kaki mulai terbentuk. Pada minggu ke 10 selaput pada jari-jari dan kaki menghilang, dan ekor sudah menghilang, pada minggu ini embrio sudah terbentuk menjadi janin dan sudah dikenali sebagai manusia. Pada minggu ke 11 ginjal mulai bekerja dan memproduksi air seni, ukuran janin sekitar 5 cm.

Minggu 12-15

Pada minggu 12 otot mulut mempunyai respon untuk mengembang dan menghisap, Akhir minggu 13 menandai akhir trimester pertama. Pada saat ini semua organ telah terbentuk. Pada minggu 14, kerangka mengeras menjadi tulang, dan pada minggu 15 dimulai pembuatan empedu, serta sudah dapat dibedakan jenis kelamin nya (Laki-laki/Perempuan). Panjang sekitar 10 cm dengan bobot gram, melakukan peregangan, menguap, dan juga jungkir balik.

Minggu 16-19
Periode ini adalah masa pertumbuhan janin dengan cepat. Pada minggu 16 mata pindah ke bagian kepala dan pada minggu 17 tubuh ditutupi rambut berbulu halus yang disebut lanugo dan cairan licin yang disebut vernix. Pada minggu 18 janin mulai bisa mendengar, dan ovarium mulai terbentuk. Pada minggu 19 rambut di kepala mulai tumbuh, panjang janin sekitar 15 cm dengan berat sekitar 260 gram.

Minggu 20-23
Kelopak mata masih tertutup, namun janin bisa melihat cahaya sebagai cahaya merah yang hangat. Pada minggu 21 tunas gigi mulai terbentuk di gusi dan janin mulai menelan cairan ketuban. Pada minggu 23 janin sudah memiliki gerakan mata yang cepat. Pada akhir minggu 23 panjang janin sekitar 20 cm dan berat sekitar 545 gram.

Minggu 24-27
Pada masa ini janin mengalami pertumbuhan badan yang cepat, jika bayi lahir pada periode ini, ada kemungkinan 50 - 90 % bayi dapat bertahan hidup. Karena pada periode ini oksigen sudah memasuki aliran darah. Pada minggu 26 janin sudah dapat mengenali rasa manis. Minggu 27 menandai awal trimester ketiga. Panjang janin sekitar 24 cm dengan berat 910 gram.

Minggu 28-31
Pada minggu 28 mata sudah terbuka, pada minggu ke 29 sistem kekebalan tubuh mulai berfungsi dan enamel mulai terbentuk pada tunas gigi didalam gusi. Pada minggu ke 30 tulang sum sum mulai memproduksi sel darah, pada akhir minggu 31 panjang janin sekitar 27 cm dengan berat 1,5 kg.

Minggu 32-35
Otak terus tumbuh, dan sudah dapat menyadari adanya suara dari dunia luar dan dapat merespon cahaya. Janin sudah menyimpan banyak lemak di tumbuhnya untuk membantu mengatur suhu setelah lahir. Pada akhir minggu 35 tingginya sekitar 31 cm dengan berat 2,3 kg.

Minggu 36-40
Pada periode bulan terakhir ini, semua organ tubuh sudah hampir sempurna, paru-paru siap untuk memulai pernafasan ketika tali pusar di potong pada saat lahir. Pada periode ini lebih adalah persiapan kelahiran, penyesuaian posisi kepala agar berpindah kebawa untuk memudahkan proses kelahiran. Pada Ibu yang baru pertama hamil, peroses kelahiran akan terjadi pada minggu 42 atau bahkan 43.

Sabtu, 14 Mei 2011

MANAJEMEN PEMBIAYAAN


BAB I
PENDAHULUAN

 1.1 Latar Belakang
Sekolah adalah sebuah aktifitas besar yang di dalamnya ada empat komponen yang saling berkaitan.  Empat komponen yang di maksud adalah Staf Tata Laksana Administrasi, Staf Teknis Pendidikan didalamnya ada Kepala Sekolah dan Guru, Komite Sekolah sebagai badan independent yang membantu terlaksananya operasional pendidikan, dan siswa sebagai peserta didik yang bisa di tempatkan sebagai konsumen dengan tingkat pelayanan yang harus memadai. Hubungan keempatnya harus sinergis, karena keberlangsungan operasioal sekolah terbentuknya dari hubungan “simbiosis mutualis” keempat komponen tersebut karena kebutuhan akan pendidikan demikian tinggi, tentulah harus dihadapi dengan kesiapan yang optimal semata-mata demi kebutuhan anak didik.
Salah satu unsur yang penting dimiliki oleh suatu sekolah agar menjadi sekolah yang dapat mencetak anak didik yang baik adalah dari segi pembiayaan. Manajemen pembiayaan sekolah sangat penting hubungannya dalam pelaksanaan kegiatan sekolah.
Ada beragam sumber dana yang dimiliki oleh suatu sekolah, baik dari pemerintah maupun pihak lain. Ketika dana masyarakat atau dana pihak ketiga lainnya mengalir masuk, harus dipersiapkan sistem pengelolaan pembiayaan yang professional dan jujur. Pengelolaan pembiayaan secara umum sebenarnya telah dilakukan dengan baik oleh semua sekolah. Hanya kadar substansi pelaksanaanya yang beragam antara sekolah yang satu dengan yang lainnya. Adanya keragaman ini bergantung kepada besar kecilnya tiap sekolah, letak sekolah dan julukan sekolah. Pada sekolah-sekolah biasa yang daya dukung masyarakatnya masih tergolong rendah, pengelolaan pembiayaannya pun masih sederhana. Sedangkan, pada sekolah-sekolah biasa yang daya dukung masyarakatnya besar, bahkan mungkin sangat besar, tentu saja pengelolaan pembiayaannya cenderung menjadi lebih rumit. Kecenderungan ini dilakukan karena sekolah harus mampu menampung berbagai kegiatan yang semakin banyak dituntut oleh masyarakatnya.
Dilatar belakangi oleh permasalahan tersebut di atas, kami menyusun sebuah makalah yang membahas tentang pengelolaan manajemen pembiayaan sekolah, terutama yang dilaksanakan di SMP Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya.
 1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka yang menjadi permasalahan dan diungkapkan dalam makalah ini adalah :
a. Apakah manajemen pembiayaan sekolah di SMP Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya sudah berjalan dengan baik?
b. Bagaimana pengelolaan manajemen pembiayaan sekolah di SMP Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya sudah berjalan dengan baik?
1.3 Batasan Masalah
Agar masalah yang dikemukakan terarah pada sasaran maka perlu pembatasan yaitu pengelolaan manajemen pembiayaan sekolah SMP Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya sudah berjalan dengan baik
1.4 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
a. Untuk mengetahui apakah manajemen pembiayaan sekolah di SMP Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya sudah berjalan dengan baik?
b. Untuk mengetahui bagaimana pengelolaan manajemen pembiayaan sekolah di SMP      Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya.
1.5 Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, kami menggunakan dua metode, yaitu :
a.  Wawancara, yaitu menanyakan langsung kepada narasumber tentang manajemen pembiayaan sekolah.
b. Observasi langsung, berdasarkan pengamatan baik dari media cetak maupun elektronik.
c. Kepustakaan, yaitu penggunaan bahan-bahan penulisan yang bersumber dari buku-buku referensi dan webside.
 
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

 2.1 Pengertian Manajemen Pembiayaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia manajemen artinya penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien. Manajemen pembiayaan adalah sumber daya yang diterima yang akan dipergunakan untuk penyelenggaraan pendidikan. Manajemen pembiayaan dimaksudkan sebagai suatu manajemen terhadap fungsi-fungsi pembiayaan.
Menurut Jones (1985), manajemen pembiayaan meliputi:
1. Perencanaan financial, yaitu kegiatan mengkoordinir semua sumber daya yang tersedia untuk mencapai sasaran yang diinginkan secara sistematik tanpa efek samping yang merugikan.
2. Pelaksanaan (implenmentation involves accounting), yaitu kegiatan berdasarkan rencana yang telah dibuat.
3. Evaluasi, yaitu proses penilaian terhadap pencapaian tujuan.
2.2 Tugas Manajer Pembiayaan
Dalam pelaksanaannya, manajemen pembiayaan menganut asas pemisahan tugas antara fungsi Otorisator, Ordonator, dan Bendaharawan. Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran anggaran. Ordonator adalah pejabat yang berwenang melakukan pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan otorisasi yang
telah ditetapkan. Bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang serta diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban.
Kepala Sekolah, sebagai manajer, berfungsi sebagai Otorisator dan  dilimpahi fungsi Ordonator untuk memerintahkan pembayaran. Namun, tidak dibenarkan melaksanakan fungsi Bendaharawan karena berkewajiban melakukan pengawasan ke dalam. Sedangkan Bendaharawan, di samping mempunyai fungsi-fungsi Bendaharawan, juga dilimpahi fungsi ordonator untuk menguji hak atas pembayaran.
Manajer pembiayaan sekolah berkewajiban untuk menentukan pembiayaan sekolah, cara mendapatkan dana untuk infrastruktur sekolah serta penggunaan dana tersebut untuk membiayai kebutuhan sekolah.
Tugas manajer pembiayaan antara lain:
1. Manajemen untuk perencanaan perkiraan.
2. Manajemen memusatkan perhatian pada keputusan investasi dan pembiayaannya.
3. Manajemen kerjasama dengan pihak lain.
4. Penggunaan pembiayaan dan mencari sumber dananya.
Seorang manajer pembiayaan harus mempunyai pikiran yang kreatif dan dinamin. Hal ini penting karena pengelolaan yang dilakukan oleh seorang manajer pembiayaan berhubungan dengan masalah pembiayaan yang sangat penting dalam penyelenggaraan kegiatan sekolah. Adapun yang harus dimiliki oleh seorang manajer pembiayaan yaitu strategi pembiayaan. Strategi tersebut antara lain:
1. Strategic Planning
Berpedoman keterkaitan antara tekanan internal dan kebutuhan ekternal yang datang dari luar. Terkandung unsur analisis kebutuhan, proyeksi, peramalan, ekonomin dan financial.
2. Strategic Management
Upaya mengelolah proses perubahan, seperti: perencanaan, strategis, struktur organisasi, kontrol, strategis dan kebutuhan primer.
3. Strategic Thinking
Sebagai kerangka dasar untuk merumuskan tujuan dan hasil secara berkesinambungan.
2.3 Proses Pengelolaan Pembiayaan di Sekolah
Komponen pembiayaan sekolah merupakan komponen produksi yang menentukan terlaksananya kegiatan belajar-mengajar bersama komponenkomponen lain. Dengan kata lain, setiap kegiatan yang dilakukan sekolah memerlukan biaya.
Dalam tataran pengelolaan Vincen P Costa (2000 : 175) memperlihatkan cara mengatur lalu lintas uang yang diterima dan dibelanjakan mulai dari kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan sampai dengan penyampaian umpan balik. Kegiatan perencanaan menentukan untuk apa, dimana, kapan dan beberapa lama akan dilaksanakan, dan bagaimana cara melaksanakannya. Kegiatan pengorganisasian menentukan bagaimana aturan dan tata kerjanya. Kegiatan pelaksanaan menentukan siapa yang terlibat, apa yang dikerjakan, dan masing-masing bertanggung jawab dalam hal apa. Kegiatan pengawasan dan pemeriksaan mengatur kriterianya, bagaimana cara melakukannya, dan akan
dilakukan oleh siapa. Kegiatan umpan balik merumuskan kesimpulan dan saran-saran untuk kesinambungan terselenggarakannya Manajemen Operasional Sekolah.
Muchdarsyah Sinungan menekankan pada penyusunan rencana (planning) di dalam setiap penggunaan anggaran. Langkah pertama dalam penentuan rencana pengeluaran pembiayaan adalah menganalisa berbagai aspek yang berhubungan erat dengan pola perencanaan anggaran, yang didasarkan pertimbangan kondisi pembiayaan, line of business, keadaan para nasabah/konsumen, organisasi pengelola, dan skill para pejabat pengelola.
Proses pengelolaan pembiayaan di sekolah meliputi:
1. Perencanaan anggaran.
2. Strategi mencari sumber dana sekolah.
3. Penggunaan pembiayaan sekolah.
4. Pengawasan dan evaluasi anggaran.
5. Pertanggungjawaban.
Menurut Lipham (1985), ada empat fase penyusunan anggaran antara lain:
1. Merencanakan anggaran.
2. Mempersiapkan anggaran.
3. Mengelola pelaksanaan anggaran.
4. Menilai pelaksanaan anggaran.
Anggaran mempunyai fungsi:
1. Sebagai alat penaksir.
2. Sebagai alat otorisasi.
3. Sebagai alat efisiensi.
Pemasukan dan pengeluaran pembiayaan sekolah diatur dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Ada beberapa hal yang berhubungan dengan penyusunan RAPBS, antara lain:
1. Penerimaan.
2. Penggunaan.
3. Pertanggungjawaban.
 

BAB III
HASIL PENELITIAN
 
Berdasarkan hasil penelitian yang kami lakukan di SMP Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya serta penelitian terhadap sekolah-sekolah lainnya, kami menyimpulkan beberapa hal yang berkaitan dengan pengelolaan manajemen pembiayaan sekolah di tingkat SD, SMP dan SMA atau sederajat.
3.1 Sumber-Sumber Pembiayaan Sekolah
1. Dana dari Pemerintah
Dana dari pemerintah disediakan melalui jalur Anggaran Rutin dalam Daftar Isian Kegiatan (DIK) yang dialokasikan kepada semua sekolah untuk setiap tahun ajaran. Dana ini lazim disebut dana rutin. Besarnya dana yang dialokasikan di dalam DIK biasanya ditentukan
berdasarkan jumlah peserta didik kelas I, II dan III. Mata anggaran dan besarnya dana untuk masing-masing jenis pengeluaran sudah ditentukan Pemerintah di dalam DIK. Pengeluaran dan pertanggungjawaban atas pemanfaatan dana rutin (DIK) harus benar-benar sesuai dengan mata anggara tersebut.
Selain DIK, pemerintah sekarang juga memberikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana ini diberikan secara berkala yang digunakan untuk membiayai seluruh kegiatan operasional sekolah.
2. Dana dari Orang Tua Peserta didik
Pendanaan dari masyarakat ini dikenal dengan istilah iuran Komite. Besarnya sumbangan dana yang harus dibayar oleh orang tua peserta didik ditentukan oleh rapat Komite sekolah. Pada umumnya dana Komite terdiri atas :
a. Dana tetap bulan sebagai uang kontribusi yang harus dibayar oleh orang tua setiap bulan selama anaknya menjadi peserta didik di sekolah.
b. Dana incidental yang dibebankan kepada peserta didik baru yang biasanya hanya satu kali selama tiga tahun menjadi peserta didik (pembayarannya dapat diangsur).
c. Dana sukarela yang biasanya ditawarkan kepada orang tua peserta didik terterntu yang dermawan dan bersedia memberikan sumbangannya secara sukarela tanpa suatu ikatan apapun.
 3. Dana dari Masyarakat
Dana ini biasanya merupakan sumbangan sukarela yang tidak mengikat dari anggota-anggota masyarakat sekolah yang menaruh perhatian terhadap kegiatan pendidikan di suatu sekolah. Sumbangan sukarela yang diberikan tersebut merupakan wujud dari kepeduliannya
karena merasa terpanggil untuk turut membantu kemajuan pendidikan. Dana ini ada yang diterima dari perorangan, dari suatu organisasi, dari yayasan ataupun dari badan usaha baik milik pemerintah maupun milik swasta.
4. Dana dari Alumni
Bantuan dari para Alumni untuk membantu peningkatan mutu sekolah tidak selalu dalam bentuk uang (misalnya buku-buku, alat dan perlengkapan belajar). Namun dana yang dihimpun oleh sekolah dari para alumni merupakan sumbangan sukarela yang tidak mengikat dari mereka yang merasa terpanggil untuk turut mendukung kelancaran kegiatan-kegiatan demi kemajuan dan pengembangan sekolah. Dana ini ada yang diterima langsung dari alumni, tetapi ada juga yang dihimpun melalui acara reuni atau lustrum sekolah.
5. Dana dari Peserta Kegiatan
Dana ini dipungut dari peserta didik sendiri atau anggota masyarakat yang menikmati pelayanan kegiatan pendidikan tambahan atau ekstrakurikuler, seperti pelatihan komputer, kursus bahasa Inggris atau keterampilan lainnya.
6. Dana dari Kegaitan Wirausaha Sekolah
Ada beberapa sekolah yang mengadakan kegiatan usaha untuk mendapatkan dana. Dana ini merupakan kumpulan hasil berbagai kegiatan wirausaha sekolah yang pengelolaannya dapatj dilakukan oleh staf sekolah atau para peserta didik misalnya koperasi, kantin sekolah, bazaar tahunan, wartel, usaha fotokopi, dll.
3.2 Penyusunan RAPBS
Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) harus berdasarkan pada rencana pengembangan sekolah dan merupakan bagian dari rencana operasional tahunan. RAPBS meliputi penganggaran untuk kegiatan pengajaran, materi kelas, pengembangan profesi guru, renovasi bangunan sekolah, pemeliharaan, buku, meja dan kursi. Penyusunan RAPBS tersebut harus melibatkan kepala sekolah, guru, komite sekolah, staf TU dan komunitas sekolah. RAPBS perlu disusun pada setiap tahun ajaran sekolah dengan memastikan bahwa alokasi anggaran bisa memenuhi kebutuhan sekolah secara optimal.
Prinsip Penyusunan RAPBS, antara lain:
  RAPBS harus benar-benar difokuskan pada peningkatan pembelajaran murid secara jujur, bertanggung jawab, dan transparan.
  RAPBS harus ditulis dalam bahasa yang sederhana dan jelas, dan dipajang di tempat terbuka di sekolah.
   Dalam menyusun RAPBS, sekolah sebaiknya secara saksama memprioritaskan pembelanjaan dana sejalan dengan rencana pengembangan sekolah.

Kamis, 03 Maret 2011

PERBEDAAN PANDANGAN ANTARA DEMING, JURAN, DAN CROSBY


Tiga penulis Mutu yaitu W. Edwards Deming, Joseph Juran dan Philip B. Crosby menulis tentang Mutu dalam Industri Produk, meskipun ide-ide mereka dapat diterapkan pada Industri Jasa.
Tidak satupun diantara mereka membahas tentang Mutu Pendidikan, namun masukan mereka tentang Mutu sangat besar pengaruhnya terhadap Manajemen Mutu lainnya.
Berikut ini pandangan-pandangan mereka tentang Mutu yang berkaitan erat dengan Manajemen Mutu Terpadu/Total Quality Management.
Deming
            W. Edwards Deming mengemukakan tentang Mutu bersifat Filsafat. Dalam bukunya yang berjudul Out of the Crisis, beliau menggabungkan konsep Mutu mulai dari wawasan Psikologis sampai dengan Kultur Mutu (Quality Culture).
            Deming menyatakan, ada empat belas poin manajemen mutu yaitu terdiri dari :
1.      Ciptakan sebuah usaha peningkatan produksi dan jasa.
2.      Adopsi falsafah baru.
3.      Hindari ketergantungan pada inspeksi massa untuk mencapai mutu.
4.      Akhiri praktek menghargai bisnis dengan harga.
5.      Tingkatkan secara konstan sistem produksi dan jasa.
6.      Lembagakan pelatihan kerja.
7.      Lembagakan kepemimpinan.
8.      Hilangkan rasa takut.
9.      Uraikan kendala-kendala antar departemen.
10.  Hapuskan slogan, desakan, dan target, serta tingkatkan produktifitas tanpa menambah beban kerja.
11.  Hapuskan standar kerja yang menggunakan quota numerik.
12.  Hilangkan kendala-kendala yang merampas kebanggaan karyawan atas keahliannya.
13.  Lembagakan aneka program pendidikan yang meningkatkan semangat dan peningkatan kualitas kerja.
14.  Tempatkan setiap orang dalam tim kerja agar dapat melakukan transformasi.


Menurut Deming, terdapat lima penyakit yang signifikan dalam konteks pendidikan, yaitu :
1.      Kurang konstannya tujuan.
2.      Pola pikir jangka pendek.
3.      Evaluasi prestasi individu.
4.      Rotasi kerja yang tinggi.
5.      Manajemen yang menggunakan angka yang tampak.
Kegagalan mutu terbagi dalam dua bagian, yaitu :
1.      Umum terdiri dari : desain kurikulum yang lemah, bangunan yang tidak memenuhi syarat, lingkungan kerja yang buruk, sistem dan prosedur yang tidak sesuai, jadwal kerja yang serampangan, sumberdaya yang kurang, dan pengembangan staf yang tidak memadai.
2.      Khusus yaitu : kurangnya pengetahuan dan keterampilan anggota, kurangnya motivasi, kegagalan komunikasi, atau masalah yang berkaitan dengan perlengkapan-perlengkapan.
Juran
Buku karangan Joseph Juran adalah Juran’s Quality Control Handbook, Juran on Planning for quality, dan Juran on Laedership for Quality. Juran termasyur dengan keberhasilannya menciptakan Kesesuaian dengan tujuan dan manfaat. Juran mengemukakan tentang mutu yang terkenal dengan istilah Aturan 85/15. Juran menyatakan bahwa 85% masalah-masalah mutu dalam sebuah organisasi adalah hasil dari desain proses yang kurang baik. Menurut Juran Manajemen Mutu Strategis (Strategic Quality Management) adalah sebuah proses tiga bagian yang didasarkan pada staf pada tingkat berbeda yang memberi kontribusi unik terhadap peningkatan mutu. Manajer senior memiliki pandangan strategis tentang Organisasi. Manajer menengah memiliki pandangan operasional tentang Mutu dan para karyawan memiliki tanggungjawab terhadap Kontrol Mutu.
 
Crosby
Philip Crosby mengemukakan ide dalam mutu yang terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
1.      Ide bahwa mutu itu Gratis
2.      Ide bahwa kesalahan, kegagalan, pemborosan, dan penundaan waktu, bisa dihilangkan jika institusi memiliki kemauan untuk itu.
Dalam Quality Is Free, Crosby mengemukakan bahwa sebuah langkah sistematis untuk mewujudkan mutu akan menghasilkan mutu yang baik.
Teori Zero Defects (Tanpa Cacat) yang dikemukakan Philip Crosby adalah ide yang melibatkan penempatan sistem pada sebuah wilayah yang memastikan bahwa segala sesuatunya selalu dikerjakan dengan metode yang tepat sejak pertama kali dan selamanya.
Program mutu yang dikemukakan Crosby terdiri dari 14 langkah yaitu :
1.      Komitmen Manajemen (Management Commitment)
2.      Tim Peningkatan Mutu (Quality Improvement Team)
3.      Pengukuran Mutu (Quality Measurement)
4.      Mengukur Biaya Mutu (The Cost of Quality)
5.      Membangun Kesadaran Mutu (Quality Awareness)
6.      Kegiatan Perbaikan (Corrective Actions)
7.      Perencanaan Tanpa Cacat (Zero Defect Planning)
8.      Pelatihan Pengawas (Supervisor Training)
9.      Hari Tanpa Cacat (Zero Defect Day)
10.  Penyusunan Tujuan (Goal Setting)
11.  Penghapusan Sebab Kesalahan (Error-Cause Removal)
12.  Pengakuan (Recognition)
13.  Dewan-Dewan Mutu (Quality Councils)
14.  Lakukan Lagi (Do It Over Again)
  
KESIMPULAN
Ketiga penulis di atas memiliki ide-ide tentang bagaimana mutu harus diukur dan dikelola, jelas bahwa Deming, Juran dan Crosby semuanya memiliki tujuan yang sama. Penegasan Deming bahwa Pelanggan menjadi orang yang bisa menentukan apakah mutu ada di sebuah Produk atau Layanan, Juran mendefinisikan tentang mutu, dan Crosby mendefinisikan manajemen mutu ditentukan oleh nasabah sebagai penentu terakhir dari kualitas suatu produk atau jasa tertentu. Ketiga penulis tersebut menghasilkan perbedaan yang nyata dari definisi mutu, meskipun dengan berbagai tingkatan yang berbeda.             Dan juga ketiganya melihat pentingnya umpan balik dalam setiap mekanisme yang dirancang untuk mengukur dan mengelola kualitas : Teori Deming adalah Continuous Improvement Helix, sedangkan Juran terkenal dengan Triloginya, dan Crosby mengemukakan tentang Harga Non-Conformance.
Perbedaannya, seperti yang dinyatakan sebelumnya, terletak dalam perspektif masing-masing. Perspektif Deming menyatakan bahwa pelanggan sebagai Penentu Kebijakan dan sangat bergantung pada pasar dimana pelanggan akan mendefinisikan mutu suatu produk atau jasa. Sementara Juran mengemukakan bahwa mutu tidak terlepas dari pasar, dimana faktor penentu dirancang untuk menerjemahkan visi mutu untuk menghasilkan suatu produk. Perspektif Crosby menyatakan bahwa pandangan manajemen ditentukan oleh mutu seseorang baik atau tidaknya tujuan mutu terpenuhi, serta biaya yang harus dikelurkan.
Sebagai kesimpulannya, bahwa Deming, Juran, dan Crosby memiliki pendekatan yang berbeda tentang manajemen mutu, tetapi pada akhirnya ketiganya menekankan pada prinsip-prinsip dasar yang sama.

 
DAFTAR PUSTAKA



Sallis E. (2008). Total Quality Management in Education. IRCiSoD. Yogyakarta.