Jumat, 24 Oktober 2014

BINATANG YANG DISEBUTKAN DALAM AL QURAN

“Sesungguhnya, Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk
atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin
bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir
mengatakan, “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan
perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu
(pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah
kecuali orang-orang yang fasik.” (QS. Al Baqarah, 2: 26) !
Nyamuk
Sebagaimana yang telah disebutkan, dalam banyak ayat Al Quran Allah
memerintahkan manusia untuk memperhatikan alam dan melihat “tanda-tanda” di
dalamnya. Semua makhluk hidup dan tak hidup di alam semesta diliputi oleh tanda-tanda
yang menunjukkan bahwa mereka semua “diciptakan”, bahwa mereka menunjukkan kekuasaan,
ilmu, dan seni dari “Pencipta” mereka. Manusia bertanggung jawab untuk mengenali
tanda-tanda ini dengan menggunakan akal budinya, untuk memuliakan Allah.
Walau semua makhluk hidup memiliki tanda-tanda ini, beberapa tanda dirujuk Allah
secara khusus dalam Al Quran. Nyamuk adalah salah satunya. Di surat Al Baqarah ,
nyamuk disebutkan:
“Sesungguhnya, Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk
atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin
bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir
mengatakan, “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan
perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu
(pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah
kecuali orang-orang yang fasik.”(QS. Al Baqarah, 2: 26) !
Nyamuk sering dianggap sebagai makhluk hidup yang biasa dan tidak penting.
Namun, ternyata nyamuk itu sangat berarti untuk diteliti dan dipikirkan sebab di dalamnya
terdapat tanda kebesaran Allah. Inilah sebabnya “Allah tiada segan membuat perumpamaan
berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu”.
Perjalanan Luar Biasa Sang Nyamuk
Pada umumnya, nyamuk dikenal sebagai pengisap dan pemakan darah. Hal ini
ternyata tidak terlalu tepat, karena yang mengisap darah hanya nyamuk betina. Selain itu,
nyamuk betina tidak membutuhkan darah untuk makan. Baik nyamuk jantan maupun betina
hidup dari nektar bunga. Nyamuk betina mengisap darah hanya karena ia mem-butuhkan
protein dalam darah untuk membantu telurnya berkembang. Dengan kata lain, nyamuk
betina mengisap darah hanya untuk memeli-hara kelangsungan spesiesnya.
Proses perkembangan nyamuk merupakan salah satu aspek yang paling mengesankan
dan mengagumkan. Berikut ini adalah kisah singkat tentang transformasi makhluk hidup
dari seekor larva renik melalui beberapa tahap menjadi seekor nyamuk:
Telur nyamuk, yang berkembang dengan diberi makan darah, dite-lurkan nyamuk
betina di atas daun lembap atau kolam kering selama musim panas atau musim gugur.
Sebelumnya, si induk memeriksa per-mukaan tanah secara menyeluruh dengan reseptor
halus di bawah perutnya. Setelah menemukan tempat yang cocok, ia mulai bertelur. Telurtelur
tersebut panjangnya kurang dari satu milimeter, tersusun dalam satu baris, secara
berkelompok atau satu-satu. Beberapa spesies bertelur dalam bentuk tertentu, saling
menempel sehingga menyerupai sampan. Sebagian kelompok telur ini bisa terdiri atas 300
telur.
Telur-telur berwarna putih yang disusun rapi ini segera menjadi gelap warnanya, lalu
menghitam dalam beberapa jam. Warna hitam ini memberikan perlindungan bagi larva, agar
tak terlihat oleh burung atau serangga lain. Selain telur, warna kulit sebagian larva juga
berubah sesuai dengan lingkungan, sehingga mereka lebih terlindungi.
Larva berubah warna dengan memanfaatkan faktor-faktor tertentu melalui berbagai
proses kimia rumit. Jelaslah, telur, larva, ataupun induk nyamuk tersebut tidak mengetahui
proses-proses di balik perubahan warna dalam tahap perkembangan nyamuk. Tidak
mungkin ia bisa membuat sistem ini. dengan kemampuan sendiri. Tidak mungkin pula
sistem ini terbentuk secara kebetulan. Nyamuk telah diciptakan dengan sistem ini sejak
mereka pertama kali muncul.
Menetasnya Telur
Seusai masa inkubasi, larva-larva mulai keluar dari telur secara hampir bersamaan.
Larva, yang terus-menerus makan, tumbuh dengan cepat. Kulit mereka segera menjadi
sempit, sehingga mereka tidak bisa tumbuh lebih besar lagi. Ini berarti sudah tiba saatnya
untuk pergantian kulit yang pertama. Pada tahap ini, kulit yang keras dan rapuh ini mudah
pecah. Larva nyamuk berganti kulit dua kali lagi sampai selesai berkembang.
Metode makan larva pun menakjubkan. Larva membuat pusaran kecil di dalam air,
dengan menggunakan dua anggota badan yang berbulu dan mirip kipas angin. Pusaran ini
membuat bakteri atau mikroorganisme lainnya mengalir ke mulutnya. Sambil bergantung
terjungkir di dalam air, larva bernapas melalui pipa udara yang mirip “snorkel” yang
digunakan para penyelam. Tubuhnya me-ngeluarkan cairan kental yang mencegah
masuknya air ke lu-bang yang digunakannya untuk bernapas. Singkatnya, makhluk hidup
ini dapat bertahan hidup melalui banyak keseimbangan rumit yang berhubungan timbalbalik
dan saling mempengaruhi. Jika tidak memiliki pipa udara, ia tidak akan mampu
bertahan hi-dup. Jika tidak ada cairan kental, pipa pernapasannya akan dipe-nuhi air.
Pembentukan dua sistem ini pada dua waktu yang berbeda akan menyebabkan kematian pada
tahap ini. Ini menunjukkan bahwa keseluruhan sistem nya-muk tersebut itu utuh sejak
awal. Dengan kata lain, ia telah dicip-takan.
Larva berganti kulit sekali lagi. Pergantian yang terakhir ini agak berbeda dengan
sebelum-nya. Pada tahap ini, larva mema-suki tahap pendewasaan terakhir, yaitu tahap
kepompong. Kepom-pong yang mereka tempati menja-di sangat sempit. Ini berarti sudah
tiba saatnya bagi larva untuk keluar dari kepompong. Makhluk yang keluar dari kepompong
ini sedemikian berbeda, sehingga sulit dipercaya bahwa kedua wujud ini adalah dua fase
perkembangan dari satu makhluk yang sama. Sebagaimana yang terlihat, proses perubahan
ini terlalu rumit dan sulit untuk dirancang baik oleh larva ataupun nyamuk betina….
Selama tahap terakhir perkembangan ini, larva menghadapi bahaya terputusnya
pernapasan, sebab lubang pernapasannya yang mencapai permukaan air melalui pipa udara
akan tertutup. Sejak tahap ini, pernapasan nyamuk tidak lagi menggunakan lubang ini,
tetapi melalui dua pipa yang baru saja muncul pada bagian depan tubuhnya. Oleh karena
itulah, pipa-pipa ini tersembul di permukaan air sebelum pergantian kulit. Nyamuk dalam
kepompong ini sekarang telah dewasa. Ia siap terbang, lengkap dengan semua organ dan
organelnya, seperti antena, tubuh, kaki, dada, sayap, perut, dan matanya yang besar.
Kepompong tersebut tersobek di bagian atas. Bahaya terbesar pada tahap ini adalah
bocornya air ke dalam kepompong. Akan tetapi, bagian atas kepompong yang tersobek ini
ditutupi suatu cairan kental khusus, yang berfungsi melindungi kepala nyamuk dari
sentuhan air. Ini saat yang sangat penting. Karena ia dapat jatuh ke air dan mati akibat
tiupan angin, nyamuk harus memanjat ke atas air dan hanya kakinya yang boleh menyentuh
permukaan air. Ia berhasil.
Bagaimana nyamuk pertama kali mendapatkan “kemampuan” ber-transformasi
seperti ini? Mungkinkah sebuah larva “memutuskan” untuk berubah menjadi seekor
nyamuk setelah berganti kulit tiga kali? Tentu tidak! Sangatlah jelas bahwa makhluk hidup
mungil ini, yang dijadikan perumpamaan oleh Allah, telah diciptakan sedemikian secara
khusus.
Teknik Mengisap Darah yang Menakjubkan
Teknik nyamuk untuk mengisap darah ini bergantung pada sistem kompleks yang
mengatur kerja sama antara berbagai struktur yang sangat terperinci.
Setelah mendarat pada sasaran, mula-mula nyamuk mendeteksi sebuah titik dengan
bibir pada belalainya. Sengat nyamuk yang mirip alat suntik ini dilindungi bungkus khusus
yang mem-buka selama proses pengisapan darah.
Tidak seperti anggapan orang, nyamuk tidak menusuk kulit dengan cara menghunjamkan
belalainya dengan tekanan. Di sini, tugas utama dilakukan oleh rahang atas yang
setajam pisau dan rahang bawah yang memiliki gigi yang membengkok ke belakang.
Nyamuk menggerakkan rahang bawah maju-mundur seperti gergaji dan mengiris kulit
dengan bantuan rahang atas. Ketika sengat diselipkan melalui irisan pada kulit ini dan
mencapai pembuluh darah, proses pengeboran berakhir. Sekarang wak-tunya nyamuk
mengisap darah.
Namun, sebagaimana kita ketahui, luka seringan apa pun pada pembuluh darah akan
menyebabkan tubuh manusia me-ngeluarkan enzim yang membekukan da-rah dan
menghentikan kebocoran. Enzim ini tentunya menjadi masalah bagi nyamuk, sebab tubuh
manusia juga akan segera bereaksi membekukan darah pada lubang yang dibuat nyamuk
dan menutup luka tersebut. Artinya, nyamuk tidak akan bisa mengisap darah lagi.
Akan tetapi, masalah ini dapat diatasi. Sebelum mulai mengisap darah, ia
menyuntikkan cairan khusus dari tubuh-nya ke dalam irisan yang telah terbuka. Cairan ini
menetral-kan enzim pembeku darah. Maka, nyamuk dapat mengisap darah yang ia butuhkan
tanpa terjadi pembekuan darah. Rasa gatal dan bengkak pada titik yang digigit nyamuk
diakibatkan oleh cairan pencegah pembekuan darah ini.
Ini tentulah sebuah proses yang luar biasa dan memun-culkan pertanyaan-pertanyaan
berikut:
1. Bagaimana nyamuk tahu dalam tubuh manusia ada enzim pembeku?
2. Untuk memproduksi cairan penetral enzim tersebut, nyamuk perlu mengetahui
struktur kimianya. Bagaimana ini bisa terjadi?
3. Andaipun entah bagaimana nyamuk mendapatkan pengetahuan itu (!), bagaimana
ia memproduksi cairan itu dalam tubuhnya sendiri dan membuat “rantai teknis” yang
dibutuhkan untuk mentransfer cairan tersebut ke belalainya?
Jawaban semua pertanyaan ini telah jelas: tidak mungkin nyamuk bisa melakukan
semua hal di atas. Ia tidak pula memiliki akal, ilmu kimia, ataupun lingkungan
“laboratorium” yang diperlukan untuk memproduksi cairan tersebut. Yang kita bicarakan
adalah seekor nyamuk yang hanya beberapa milimeter panjangnya, tanpa akal ataupun
kecerdasan, itu saja!
Jelaslah bahwa Allah, Tuhan dari langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di
dalamnya, telah menciptakan nyamuk dan manusia, dan memberikan berbagai kemampuan
luar biasa dan menakjubkan tersebut kepada nyamuk.
Picture Text
Sumber makanan utama bagi nyamuk jantan dan betina adalah nektar.
Sepit Khusus untuk Kawin
Seekor nyamuk jantan yang telah cukup dewasa untuk kawin akan menggunakan
antenanya - organ pendengar - untuk menemukan nyamuk betina. Fungsi antena nyamuk
jantan berbeda dengan antena nyamuk betina. Bulu tipis di ujung antenanya sangat peka
terhadap suara yang dipancarkan nyamuk betina. Tepat di sebelah organ seksual nyamuk
jantan, ter-dapat anggota tubuh yang mem-bantunya mencengkeram nyamuk betina ketika
mereka melakukan perkawinan di udara. Nyamuk jantan terbang berkelompok, sehingga
terlihat seperti awan. Ketika seekor betina memasuki kelompok terse-but, nyamuk jantan
yang berhasil mencengkeram nyamuk betina akan melakukan perkawinan dengannya
selama penerbangan. Perkawinan tidak berlangsung lama dan nyamuk jantan akan kembali
ke kelompok-nya setelah perkawinan. Sejak saat itu, nyamuk betina memerlukan darah
untuk perkembangan telurnya.
Pada beberapa spesies nyamuk, induk betina menyusun ratusan telurnya sehingga
menyerupai sampan.
Nyamuk dalam tahap kepompong
Sistem Pernapasan
Dalam sistem pernapasannya, larva mengisap udara dengan menggunakan pipa
berongga yang didorong ke atas permukaan air. Sementara itu, larva menggantung
terjungkir di bawah air. Suatu cairan kental mencegah masuk-nya air ke lubang yang
digunakan larva untuk bernapas.
Ketika nyamuk keluar dari air, kepalanya tidak boleh menyentuh air sama sekali. Jika
tidak bernapas satu saat saja, napasnya akan terputus. Angin sepoi atau riak kecil pada
permukaan air pun dapat berakibat fatal bagi nyamuk.(Harun Yahya)

Senin, 17 Desember 2012

PERKEMBANGAN JANIN



Rata-rata kehamilam manusia berlangsung selama 38 minggu dari pembuahan hingga kelahiran, atau sekitar 9 bulan. Minggu-minggu awal adalah waktu paling kritis dalam perkembangan janin selanjutnya. Karena pada saat ini semua organ utama terbentuk.

Minggu 2
Pembuahan terjadi pada akhir minggu kedua. Sel telur yang telah dibuahi membelah dua 30 jam setelah dibuahi. Sambil terus membelah, sel telur bergerak di dalam lubang falopi menuju rahim. Setelah membelah menjadi 32, sel telur disebut morula.
Sel-sel mulai berkembang dan terbagi kira-kira dua kali sehari sehingga pada hari yang ke-12 jumlahnya telah bertambah dan membantu blastocyst terpaut pada endometrium.

Minggu 3
Sampai usia kehamilan 3 minggu, Anda mungkin belum sadar jika sedang mengandung. Sel telur yang telah membelah menjadi ratusan akan menempel pada dinding rahim disebut blastosit. Ukurannya sangat kecil, berdiameter 0,1-0,2 mm.

Minggu 4-5
Pada minggu ke 4, ukuran embrio kurang dari 1 mm, tetapi sudah membentuk struktur khusus, pada minggu ke 5 jantung mulai bedetak.

Minggu  6-7
Pada minggu 6 pada embrio terbentuk tunas kecil untuk kaki dan tangan, otak awal terbentuk juga sumsum tulang belakang, selama minggu ini juga mata, hidung, mulut mulai terbentuk, dan jantung sudah terbagi menjadi empat bilik. Dan pada minggu ke 7 jantung muloai berdetak, ukuran embrio sekitar 8 mm.

Minggu 8-11
Pada minggu ke 8 hati mulai menghasilkan sel-sel darah merah dan mulut mulai terbuka. Pada minggu ke 9 jari-jari kaki mulai terbentuk. Pada minggu ke 10 selaput pada jari-jari dan kaki menghilang, dan ekor sudah menghilang, pada minggu ini embrio sudah terbentuk menjadi janin dan sudah dikenali sebagai manusia. Pada minggu ke 11 ginjal mulai bekerja dan memproduksi air seni, ukuran janin sekitar 5 cm.

Minggu 12-15

Pada minggu 12 otot mulut mempunyai respon untuk mengembang dan menghisap, Akhir minggu 13 menandai akhir trimester pertama. Pada saat ini semua organ telah terbentuk. Pada minggu 14, kerangka mengeras menjadi tulang, dan pada minggu 15 dimulai pembuatan empedu, serta sudah dapat dibedakan jenis kelamin nya (Laki-laki/Perempuan). Panjang sekitar 10 cm dengan bobot gram, melakukan peregangan, menguap, dan juga jungkir balik.

Minggu 16-19
Periode ini adalah masa pertumbuhan janin dengan cepat. Pada minggu 16 mata pindah ke bagian kepala dan pada minggu 17 tubuh ditutupi rambut berbulu halus yang disebut lanugo dan cairan licin yang disebut vernix. Pada minggu 18 janin mulai bisa mendengar, dan ovarium mulai terbentuk. Pada minggu 19 rambut di kepala mulai tumbuh, panjang janin sekitar 15 cm dengan berat sekitar 260 gram.

Minggu 20-23
Kelopak mata masih tertutup, namun janin bisa melihat cahaya sebagai cahaya merah yang hangat. Pada minggu 21 tunas gigi mulai terbentuk di gusi dan janin mulai menelan cairan ketuban. Pada minggu 23 janin sudah memiliki gerakan mata yang cepat. Pada akhir minggu 23 panjang janin sekitar 20 cm dan berat sekitar 545 gram.

Minggu 24-27
Pada masa ini janin mengalami pertumbuhan badan yang cepat, jika bayi lahir pada periode ini, ada kemungkinan 50 - 90 % bayi dapat bertahan hidup. Karena pada periode ini oksigen sudah memasuki aliran darah. Pada minggu 26 janin sudah dapat mengenali rasa manis. Minggu 27 menandai awal trimester ketiga. Panjang janin sekitar 24 cm dengan berat 910 gram.

Minggu 28-31
Pada minggu 28 mata sudah terbuka, pada minggu ke 29 sistem kekebalan tubuh mulai berfungsi dan enamel mulai terbentuk pada tunas gigi didalam gusi. Pada minggu ke 30 tulang sum sum mulai memproduksi sel darah, pada akhir minggu 31 panjang janin sekitar 27 cm dengan berat 1,5 kg.

Minggu 32-35
Otak terus tumbuh, dan sudah dapat menyadari adanya suara dari dunia luar dan dapat merespon cahaya. Janin sudah menyimpan banyak lemak di tumbuhnya untuk membantu mengatur suhu setelah lahir. Pada akhir minggu 35 tingginya sekitar 31 cm dengan berat 2,3 kg.

Minggu 36-40
Pada periode bulan terakhir ini, semua organ tubuh sudah hampir sempurna, paru-paru siap untuk memulai pernafasan ketika tali pusar di potong pada saat lahir. Pada periode ini lebih adalah persiapan kelahiran, penyesuaian posisi kepala agar berpindah kebawa untuk memudahkan proses kelahiran. Pada Ibu yang baru pertama hamil, peroses kelahiran akan terjadi pada minggu 42 atau bahkan 43.

Sabtu, 14 Mei 2011

MANAJEMEN PEMBIAYAAN


BAB I
PENDAHULUAN

 1.1 Latar Belakang
Sekolah adalah sebuah aktifitas besar yang di dalamnya ada empat komponen yang saling berkaitan.  Empat komponen yang di maksud adalah Staf Tata Laksana Administrasi, Staf Teknis Pendidikan didalamnya ada Kepala Sekolah dan Guru, Komite Sekolah sebagai badan independent yang membantu terlaksananya operasional pendidikan, dan siswa sebagai peserta didik yang bisa di tempatkan sebagai konsumen dengan tingkat pelayanan yang harus memadai. Hubungan keempatnya harus sinergis, karena keberlangsungan operasioal sekolah terbentuknya dari hubungan “simbiosis mutualis” keempat komponen tersebut karena kebutuhan akan pendidikan demikian tinggi, tentulah harus dihadapi dengan kesiapan yang optimal semata-mata demi kebutuhan anak didik.
Salah satu unsur yang penting dimiliki oleh suatu sekolah agar menjadi sekolah yang dapat mencetak anak didik yang baik adalah dari segi pembiayaan. Manajemen pembiayaan sekolah sangat penting hubungannya dalam pelaksanaan kegiatan sekolah.
Ada beragam sumber dana yang dimiliki oleh suatu sekolah, baik dari pemerintah maupun pihak lain. Ketika dana masyarakat atau dana pihak ketiga lainnya mengalir masuk, harus dipersiapkan sistem pengelolaan pembiayaan yang professional dan jujur. Pengelolaan pembiayaan secara umum sebenarnya telah dilakukan dengan baik oleh semua sekolah. Hanya kadar substansi pelaksanaanya yang beragam antara sekolah yang satu dengan yang lainnya. Adanya keragaman ini bergantung kepada besar kecilnya tiap sekolah, letak sekolah dan julukan sekolah. Pada sekolah-sekolah biasa yang daya dukung masyarakatnya masih tergolong rendah, pengelolaan pembiayaannya pun masih sederhana. Sedangkan, pada sekolah-sekolah biasa yang daya dukung masyarakatnya besar, bahkan mungkin sangat besar, tentu saja pengelolaan pembiayaannya cenderung menjadi lebih rumit. Kecenderungan ini dilakukan karena sekolah harus mampu menampung berbagai kegiatan yang semakin banyak dituntut oleh masyarakatnya.
Dilatar belakangi oleh permasalahan tersebut di atas, kami menyusun sebuah makalah yang membahas tentang pengelolaan manajemen pembiayaan sekolah, terutama yang dilaksanakan di SMP Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya.
 1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka yang menjadi permasalahan dan diungkapkan dalam makalah ini adalah :
a. Apakah manajemen pembiayaan sekolah di SMP Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya sudah berjalan dengan baik?
b. Bagaimana pengelolaan manajemen pembiayaan sekolah di SMP Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya sudah berjalan dengan baik?
1.3 Batasan Masalah
Agar masalah yang dikemukakan terarah pada sasaran maka perlu pembatasan yaitu pengelolaan manajemen pembiayaan sekolah SMP Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya sudah berjalan dengan baik
1.4 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
a. Untuk mengetahui apakah manajemen pembiayaan sekolah di SMP Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya sudah berjalan dengan baik?
b. Untuk mengetahui bagaimana pengelolaan manajemen pembiayaan sekolah di SMP      Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya.
1.5 Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, kami menggunakan dua metode, yaitu :
a.  Wawancara, yaitu menanyakan langsung kepada narasumber tentang manajemen pembiayaan sekolah.
b. Observasi langsung, berdasarkan pengamatan baik dari media cetak maupun elektronik.
c. Kepustakaan, yaitu penggunaan bahan-bahan penulisan yang bersumber dari buku-buku referensi dan webside.
 
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

 2.1 Pengertian Manajemen Pembiayaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia manajemen artinya penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien. Manajemen pembiayaan adalah sumber daya yang diterima yang akan dipergunakan untuk penyelenggaraan pendidikan. Manajemen pembiayaan dimaksudkan sebagai suatu manajemen terhadap fungsi-fungsi pembiayaan.
Menurut Jones (1985), manajemen pembiayaan meliputi:
1. Perencanaan financial, yaitu kegiatan mengkoordinir semua sumber daya yang tersedia untuk mencapai sasaran yang diinginkan secara sistematik tanpa efek samping yang merugikan.
2. Pelaksanaan (implenmentation involves accounting), yaitu kegiatan berdasarkan rencana yang telah dibuat.
3. Evaluasi, yaitu proses penilaian terhadap pencapaian tujuan.
2.2 Tugas Manajer Pembiayaan
Dalam pelaksanaannya, manajemen pembiayaan menganut asas pemisahan tugas antara fungsi Otorisator, Ordonator, dan Bendaharawan. Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran anggaran. Ordonator adalah pejabat yang berwenang melakukan pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan otorisasi yang
telah ditetapkan. Bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang serta diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban.
Kepala Sekolah, sebagai manajer, berfungsi sebagai Otorisator dan  dilimpahi fungsi Ordonator untuk memerintahkan pembayaran. Namun, tidak dibenarkan melaksanakan fungsi Bendaharawan karena berkewajiban melakukan pengawasan ke dalam. Sedangkan Bendaharawan, di samping mempunyai fungsi-fungsi Bendaharawan, juga dilimpahi fungsi ordonator untuk menguji hak atas pembayaran.
Manajer pembiayaan sekolah berkewajiban untuk menentukan pembiayaan sekolah, cara mendapatkan dana untuk infrastruktur sekolah serta penggunaan dana tersebut untuk membiayai kebutuhan sekolah.
Tugas manajer pembiayaan antara lain:
1. Manajemen untuk perencanaan perkiraan.
2. Manajemen memusatkan perhatian pada keputusan investasi dan pembiayaannya.
3. Manajemen kerjasama dengan pihak lain.
4. Penggunaan pembiayaan dan mencari sumber dananya.
Seorang manajer pembiayaan harus mempunyai pikiran yang kreatif dan dinamin. Hal ini penting karena pengelolaan yang dilakukan oleh seorang manajer pembiayaan berhubungan dengan masalah pembiayaan yang sangat penting dalam penyelenggaraan kegiatan sekolah. Adapun yang harus dimiliki oleh seorang manajer pembiayaan yaitu strategi pembiayaan. Strategi tersebut antara lain:
1. Strategic Planning
Berpedoman keterkaitan antara tekanan internal dan kebutuhan ekternal yang datang dari luar. Terkandung unsur analisis kebutuhan, proyeksi, peramalan, ekonomin dan financial.
2. Strategic Management
Upaya mengelolah proses perubahan, seperti: perencanaan, strategis, struktur organisasi, kontrol, strategis dan kebutuhan primer.
3. Strategic Thinking
Sebagai kerangka dasar untuk merumuskan tujuan dan hasil secara berkesinambungan.
2.3 Proses Pengelolaan Pembiayaan di Sekolah
Komponen pembiayaan sekolah merupakan komponen produksi yang menentukan terlaksananya kegiatan belajar-mengajar bersama komponenkomponen lain. Dengan kata lain, setiap kegiatan yang dilakukan sekolah memerlukan biaya.
Dalam tataran pengelolaan Vincen P Costa (2000 : 175) memperlihatkan cara mengatur lalu lintas uang yang diterima dan dibelanjakan mulai dari kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan sampai dengan penyampaian umpan balik. Kegiatan perencanaan menentukan untuk apa, dimana, kapan dan beberapa lama akan dilaksanakan, dan bagaimana cara melaksanakannya. Kegiatan pengorganisasian menentukan bagaimana aturan dan tata kerjanya. Kegiatan pelaksanaan menentukan siapa yang terlibat, apa yang dikerjakan, dan masing-masing bertanggung jawab dalam hal apa. Kegiatan pengawasan dan pemeriksaan mengatur kriterianya, bagaimana cara melakukannya, dan akan
dilakukan oleh siapa. Kegiatan umpan balik merumuskan kesimpulan dan saran-saran untuk kesinambungan terselenggarakannya Manajemen Operasional Sekolah.
Muchdarsyah Sinungan menekankan pada penyusunan rencana (planning) di dalam setiap penggunaan anggaran. Langkah pertama dalam penentuan rencana pengeluaran pembiayaan adalah menganalisa berbagai aspek yang berhubungan erat dengan pola perencanaan anggaran, yang didasarkan pertimbangan kondisi pembiayaan, line of business, keadaan para nasabah/konsumen, organisasi pengelola, dan skill para pejabat pengelola.
Proses pengelolaan pembiayaan di sekolah meliputi:
1. Perencanaan anggaran.
2. Strategi mencari sumber dana sekolah.
3. Penggunaan pembiayaan sekolah.
4. Pengawasan dan evaluasi anggaran.
5. Pertanggungjawaban.
Menurut Lipham (1985), ada empat fase penyusunan anggaran antara lain:
1. Merencanakan anggaran.
2. Mempersiapkan anggaran.
3. Mengelola pelaksanaan anggaran.
4. Menilai pelaksanaan anggaran.
Anggaran mempunyai fungsi:
1. Sebagai alat penaksir.
2. Sebagai alat otorisasi.
3. Sebagai alat efisiensi.
Pemasukan dan pengeluaran pembiayaan sekolah diatur dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Ada beberapa hal yang berhubungan dengan penyusunan RAPBS, antara lain:
1. Penerimaan.
2. Penggunaan.
3. Pertanggungjawaban.
 

BAB III
HASIL PENELITIAN
 
Berdasarkan hasil penelitian yang kami lakukan di SMP Al-Muttaqin dan MTs. Persatuan Islam Benda Tasikmalaya serta penelitian terhadap sekolah-sekolah lainnya, kami menyimpulkan beberapa hal yang berkaitan dengan pengelolaan manajemen pembiayaan sekolah di tingkat SD, SMP dan SMA atau sederajat.
3.1 Sumber-Sumber Pembiayaan Sekolah
1. Dana dari Pemerintah
Dana dari pemerintah disediakan melalui jalur Anggaran Rutin dalam Daftar Isian Kegiatan (DIK) yang dialokasikan kepada semua sekolah untuk setiap tahun ajaran. Dana ini lazim disebut dana rutin. Besarnya dana yang dialokasikan di dalam DIK biasanya ditentukan
berdasarkan jumlah peserta didik kelas I, II dan III. Mata anggaran dan besarnya dana untuk masing-masing jenis pengeluaran sudah ditentukan Pemerintah di dalam DIK. Pengeluaran dan pertanggungjawaban atas pemanfaatan dana rutin (DIK) harus benar-benar sesuai dengan mata anggara tersebut.
Selain DIK, pemerintah sekarang juga memberikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana ini diberikan secara berkala yang digunakan untuk membiayai seluruh kegiatan operasional sekolah.
2. Dana dari Orang Tua Peserta didik
Pendanaan dari masyarakat ini dikenal dengan istilah iuran Komite. Besarnya sumbangan dana yang harus dibayar oleh orang tua peserta didik ditentukan oleh rapat Komite sekolah. Pada umumnya dana Komite terdiri atas :
a. Dana tetap bulan sebagai uang kontribusi yang harus dibayar oleh orang tua setiap bulan selama anaknya menjadi peserta didik di sekolah.
b. Dana incidental yang dibebankan kepada peserta didik baru yang biasanya hanya satu kali selama tiga tahun menjadi peserta didik (pembayarannya dapat diangsur).
c. Dana sukarela yang biasanya ditawarkan kepada orang tua peserta didik terterntu yang dermawan dan bersedia memberikan sumbangannya secara sukarela tanpa suatu ikatan apapun.
 3. Dana dari Masyarakat
Dana ini biasanya merupakan sumbangan sukarela yang tidak mengikat dari anggota-anggota masyarakat sekolah yang menaruh perhatian terhadap kegiatan pendidikan di suatu sekolah. Sumbangan sukarela yang diberikan tersebut merupakan wujud dari kepeduliannya
karena merasa terpanggil untuk turut membantu kemajuan pendidikan. Dana ini ada yang diterima dari perorangan, dari suatu organisasi, dari yayasan ataupun dari badan usaha baik milik pemerintah maupun milik swasta.
4. Dana dari Alumni
Bantuan dari para Alumni untuk membantu peningkatan mutu sekolah tidak selalu dalam bentuk uang (misalnya buku-buku, alat dan perlengkapan belajar). Namun dana yang dihimpun oleh sekolah dari para alumni merupakan sumbangan sukarela yang tidak mengikat dari mereka yang merasa terpanggil untuk turut mendukung kelancaran kegiatan-kegiatan demi kemajuan dan pengembangan sekolah. Dana ini ada yang diterima langsung dari alumni, tetapi ada juga yang dihimpun melalui acara reuni atau lustrum sekolah.
5. Dana dari Peserta Kegiatan
Dana ini dipungut dari peserta didik sendiri atau anggota masyarakat yang menikmati pelayanan kegiatan pendidikan tambahan atau ekstrakurikuler, seperti pelatihan komputer, kursus bahasa Inggris atau keterampilan lainnya.
6. Dana dari Kegaitan Wirausaha Sekolah
Ada beberapa sekolah yang mengadakan kegiatan usaha untuk mendapatkan dana. Dana ini merupakan kumpulan hasil berbagai kegiatan wirausaha sekolah yang pengelolaannya dapatj dilakukan oleh staf sekolah atau para peserta didik misalnya koperasi, kantin sekolah, bazaar tahunan, wartel, usaha fotokopi, dll.
3.2 Penyusunan RAPBS
Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) harus berdasarkan pada rencana pengembangan sekolah dan merupakan bagian dari rencana operasional tahunan. RAPBS meliputi penganggaran untuk kegiatan pengajaran, materi kelas, pengembangan profesi guru, renovasi bangunan sekolah, pemeliharaan, buku, meja dan kursi. Penyusunan RAPBS tersebut harus melibatkan kepala sekolah, guru, komite sekolah, staf TU dan komunitas sekolah. RAPBS perlu disusun pada setiap tahun ajaran sekolah dengan memastikan bahwa alokasi anggaran bisa memenuhi kebutuhan sekolah secara optimal.
Prinsip Penyusunan RAPBS, antara lain:
  RAPBS harus benar-benar difokuskan pada peningkatan pembelajaran murid secara jujur, bertanggung jawab, dan transparan.
  RAPBS harus ditulis dalam bahasa yang sederhana dan jelas, dan dipajang di tempat terbuka di sekolah.
   Dalam menyusun RAPBS, sekolah sebaiknya secara saksama memprioritaskan pembelanjaan dana sejalan dengan rencana pengembangan sekolah.